Sumpeknya Rutinitas Kampus

Ngampus

Menjadi seorang mahasiswa, jujur Aku sangat bahagia, karena dapat dipandang dengan mudah oleh masyarakat luas sebagai kaum intelek muda penerus bangsa yang “disemogakan” bisa merubah kehidupan dunia, khususnya negarAku sendiri menjadi lebih baik. Berdiri seperti sekarang dengan menyandang gelar sebagai mahasiswa aktif S1 Informatika di salah satu perguruan tinggi swasta Purwokerto, Jawa Tengah, membuatku tak pernah lupa untuk bersyukur dan berterimakasih kepada keluargAku yang mau mengeluarkan sedikit uangnya untuk biaya kuliahku yang tergolong tak murah ini.

Lulus dengan ijazah Sekolah Menengah Kejuruan, tak pernah terpikir sebelumnya untuk melanjutkan kuliah. Ya, tahu sendiri, kebanyakan SMK mendidik murid-muridnya untuk menjadi tenaga kasar perusahaan.

Setelah masuk dan loloh mengikuti tahap ospek kampus yang cukup menggelikan, pernah terlintas di pikiranku. Nanti Aku bakal jadi aktivis kampus, turun ke jalan bawa ban bekas yang dibeli di tukan loak, berpakaian rapi, bertopi dan berdasi dengan badan sedikit tertutup tompi biar ga kena percikan api dan ban yang dibakar di pinggir kali.

ospek

Tapi, hal itu tak pernah Aku rasakan sama sekali. Turun ke jalan palingan cuma gara-gara berangkat kampus naik angkot. Apalagi sampai beli ban buat dibakar. Mentok-mentok juga beli kertas HVS 2 lembar sama rokok lintingan 2 batang, ngerjain laporan praktikum di kos temen. Balik lagi ke warung beli kertas HVS satu lembar buat revisi cuma gara-gara salah margin kertas doang.

Satu semester, dua semester, tiga semester udah Aku lewati dengan senang hati. Kerjaan tiap hari nongkrong di kantin bareng kawan gokil, ngerjain tugas sama revisi, sambil ketawa-ketiwi, sampai ada yang marah gara-gara satu kelompok yang kerja satu anak. Ngobrol kesana kemari, berimajinasi ditempani es kopi 2500 perak beli di warung 2 milik tantene, ga terasa jam udah nunjukin pukul satu pagi dan tiba-tiba ada anak Bekasi yang lewat dan nanya “Eh, Lu punya vidio baru ga?,”. Betapa kampretnya itu anak bisa bikin semua teman-teman ketawa, sampe kecoa pada lari, dan jangkrik sawah di sebelah kampus pada berhenti bernyanyi.


Memang sih, itu kodratnya seorang mahasiswa. Belajar, belajar, dan belajar. Hanya saja, atmosfir mahasiswa di kampus seperti yang biasa Aku liat di sinetron dan Aku baca di koran yang biasa tetanggAku langganan itu ga ada sama sekali. Ga pernah ada berita, “Teman Sekampus Rendy Pergi ke Gedung Merdekan lalu Membunuh dan Berhasil Membunuh Seekor Lalat di Hidung Bapak Presiden,”. Bahkan, yang Aku rasain kaya anak SMK yang berangkat jam 7 pagi (telat 15 menit nyanyi di depan kelas). Hari senin, selasa, kamis pakai seragam putih-biru (kaya anak MTS). Rasanya, kaya ada yang kopong aja gitu.

Ini sikapku, ini perasaanku. I hope you can feel what I feel. If you don’t like this, I don’t care. But, if you like this, you can hit the share button in below, now.
Sumpeknya Rutinitas Kampus Sumpeknya Rutinitas Kampus Reviewed by Rendy Andriyanto on February 24, 2016 Rating: 5

2 comments:

  1. ada yang salah ketika mas, itu aja yang ke tambahan "s" sebelum kata semester

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah oh iya makasih revisinya, kayaknya banyak yang typo nih :D

      Delete

Powered by Blogger.